Berita


2017-05-15   1,133

Asuransi Sampah Dokter Gamal Albinsaid

Proteksi kesehatan sangat penting untuk semua orang, tapi tidak semua orang mampu membayar premi asuransi kesehatan yang semakin tinggi. Untuk itu, seorang dokter muda asal Malang yang bernama dr. Gamal Albinsaid membuat asuransi kesehatan yang preminya hanya perlu dibayar menggunakan sampah.

Jika mendengar kata ‘sampah’, memang konotasinya begitu buruk. Entah untuk menggambarkan sesuatu yang kotor, buangan, atau hal-hal lain yang patut dihindari oleh masyarakat. Namun sampah pula yang berhasil membuat dr. Gamal meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014 yang diterimanya langsung di Istana Buckingham dan diserahkan langsung oleh Pangeran Charles. Penghargaan yang digelar oleh Unilever dan Universitas Cambridge ini, merupakan satu bentuk apresiasi terhadap entrepreneur muda yang peduli di bidang sumber daya berkelanjutan.

Bukan sembarang sampah memang, yang berhasil membawa Gamal pada pencapaian ini. Ia, mengembangkan Klinik Asuransi Sampah (KAS). Ya, dokter muda kelahiran 8 September 1989 ini, mengembangkan satu sistem di mana masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan dengan cara menukarkan sampah kering yang bisa didaur ulang.

KAS berbeda dengan klinik-klinik kesehatan lainnya. KAS dalam operasionalnya mengandalkan sampah yang dikumpulkan oleh anggotanya yang kini telah mencapai 500 orang. Untuk menjadi anggota KAS persyaratannya cukup mudah. Setiap anggota hanya mengumpulkan sampah organik  atau anorganik selama satu  bulan hingga sampah tersebut mencapai nilai 10 ribu rupiah. Jika sampahnya sudah mencapai nilai 10 ribu rupiah, maka anggota berhak mendapatkan Asuransi Sampah yang berlaku hanya di KAS saja. Karena bentuknya asuransi, maka setiap anggota harus mengumpulkan sampah senilai 10 ribu rupiah setiap bulannya.

Asuransi yang didapatkan setiap anggotanya yaitu asuransi kesehatan primer berupa perawatan dan pengobatan yang dilakukan di KAS tapi tidak sampai ke rumah sakit. Meskipun demikian, penyakit yang ditangani KAS tidak hanya penyakit-penyakit ringan seperti batuk dan pilek, tapi hingga darah tinggi, kencing manis, gangguan jiwa, infeksi, dan jantung. Obat yang didapat anggota adalah obat generik, jika anggota ingin obat bermerek maka petugas hanya memberikan resep untuk ditebus di apotek di tempat lain.

Tak berhenti di sana, sampah-sampah yang dikumpulkan dari seluruh anggota akan diolah menjadi pupuk dan dijual seharga tujuh ribu rupiah per kilogram dan ada yang dijual ke pengumpul. Uang hasil dari penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional KAS yang kini telah ada di lima tempat.

Anak dari pasangan Eliza Abdat dan Saleh Arofan Albinsaid ini merupakan CEO dan pendiri Indonesia Medika. KAS sendiri berdiri di bawah bendera perusahaan Indonesia Medika. Perusahaan bisnis sosial ini menampung 47 orang dari berbagai disiplin ilmu dengan usia rata-rata di bawah 24 tahun. Karena, perusahaan Gamal ini mempunyai sebuah kepercayaan, bahwa orang-orang berusia di bawah 24 tahun tidak hanya memikirkan berapa banyak uang yang didapat tapi lebih kepada apakah pekerjaannya bermakna dan membahagiakan.

Selain KAS perusahaan ini bekerja sama dengan salah satu rumah sakit dalam program sabuk bayi pintar. Sabuk bayi pintar merupakan sabuk audio bagi ibu hamil untuk menghasilkan generasi yang cerdas. Audio yang keluar berupa musik klasik seperti karya Mozart, atau bagi yang beragama Islam dapat menggantinya menjadi murrotal Al-Qur’an.

Sampai saat ini, dr. Gamal biasa menyebarkan inspirasi-inspirasi melalui quote-quote indah bagi para pengikutnya di media sosial. Selain itu, informasi seminar atau kegiatan lain yang akan dihadiri dr. gamal juga biasa diupdate via Facebook di Gamal Albinsaid, Twitter di @Gamal_Albinsaid, Instagram di @gamalalbinsaid, dan website resmi Indonesia Media di www.indonesiamedika.com.

Ke depannya, Gamal ingin menciptakan sekolah yang dibayar dengan sampah. Hal ini dia pikirkan ketika berbincang dengan Pangeran Charles yang berharap agar ide ini dapat lebih berkembang tidak hanya kesehatan dan lingkungan.