Berita


2017-04-25   1,123

Konsep 3M untuk Jadi Sociopreneur yang Sukses

Media Forbes Online pernah mengabarkan sebuah berita menarik dengan judul “30 Under 30  meet the social entrepreneurs changing the world in 2016 “, yaitu berita mengenai 30 orang social entrepreneurs yang mengubah dunia di usia yang belum genap 30 tahun. Mereka inilah pengusaha yang mendahulukan sisi manfaat bagi manusia sebelum bicara keuntungan.

Adalah Catalin Voss, mahasiswa Stanford University dan juga pendiri Austism Glass Application, aplikasi mobile yang membantu orang-orang dengan autisme menginterpretasikan emosi-emosi yang dirasakan secara lebih jelas. Salah satu nama sociopreneur di atas, hanyalah satu dari sekian daftar yang ditampilkan Forbes dalam artikel tersebut. Mereka masih dibawah usia 30, namun kiprahnya sangat luar biasa. Mendahulukan azas manfaat social bagi sesama umat manusia.

Aspek memberi manfaat adalah utama dalam bisnis. Dari manfaat yang diterima oleh pasar, itulah yang akan mendatangkan value bagi bisnis kamu. Semakin tinggi manfaat yang kamu berikan, maka bisnis kamu pun akan berbalik menerima keuntungan yang tidak kamu duga.

Kata Muhammad Awaluddin, Direktur Enterprise and Business Services Telkom yang juga Presiden Indonesia Marketing Association (IMA), konsep sederhana dari social entrepreneurship ini adalah 3M, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mindset in Change

Dalam buku Digital EntrepreneurShift miliknya, Awaluddin mengatakan, faktor penting dalam berbisnis adalah Mindset. Pola pikir ini akan menentukan bagaimana kamu menjalankan bisnis. Para Sociopreneur memiliki visi-misi bagaimana membantu dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Dari keinginan untuk memberikan manfaat tersebut, maka faktor bagaimana memberi kemudahan bagi orang yang membutuhkan menjadi utama. Mereka belum memikirkan keuntungan akan didapat dari mana. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, para Sociopreneur tersebut semakin mudah menjangkau orang-orang yang selama ini belum tersentuh. Contoh, Jordyn Lexton membantu anak muda kota New York yang baru dibebaskan dari penjara untuk menemukan pekerjaan di food truck yang sedang tren di Amerika. 

  1. Modelling Your Business

Tidak selamanya kamu menjadi produsen. Kamu dapat memilih pola atau model bisnis yang lain. Misalnya sebagai integrator dari pelaku bisnis lainnya. Kreatifitas dalam memilih model bisnis akan menentukan sukses tidaknya bisnis yang akan kamu jalani. Seperti yang diberitakan Forbes, Catherine Mahugu dan Patrick Woodyard membantu membawa kerajinan dari para pengrajin di negara-negara berkembang untuk pasar global. Catherine dan Patrick menyediakan akses promosi dan pemasaran agar bisnis para pengrajin tetap hidup.

  1. Make Money

Seberapa besar manfaat dan peran dari bisnis yang kamu jalani, akan berdampak pada besaran keuntungan secara finansial maupun valuasi dari bisnis kamu. Pada saat memulai bisnis, kamu memanfaatkan modal secukupnya. Tapi saat bisnis semakin berjalan, lama-lama pemilik modal luar akan mendatangi kamu untuk bergabung atau membeli bisnis kamu.