Berita


2017-05-08   1,162

Transformasi Masril Koto Jadi Seorang Sociopreneur

Masril Koto, nama tersebut demikian populer di kalangan aktivis civil society dan komunitas pertanian di Indonesia. Namanya mulai dikenal luas setelah muncul ke publik melalui sebuah acara talkshow di salah satu stasiun televisi Indonesia, sebagai tokoh inspiratif di Indonesia di bidang pertanian. Seorang petani yang berhasil bertransformasi menjadi seorang sociopreneur sukses ini bisa mendapatkan omzet dari usahanya mencapai miliaran rupiah dalam sebulan.

Masril Koto adalah pendiri Bank Tani atau Bank Petani dalam bentuk Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis (LKMA) yang bernama Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Baso, Agam, Sumatera Barat. Dia bersama teman petani lainnya merintis lembaga keuangan itu sejak tahun 2002. Sistim LKMA yang didirikannya itu kemudian diadopsi oleh pemerintah dan menjadi cikal bakal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) nasional.

Seperti sebagian pria Minang lain, Masril muda merantau ke Jakarta pada 1994. Seorang teman ibunya mengajak Masril, saat itu buruh di Pasar Padang Luar, Bukit Tinggi, membantunya di usaha percetakan di Jakarta. Tak cuma memproduksi kantong, karena lokasinya dekat dengan kampus Trisakti di Cempaka Putih, pemilik percetakan juga berbisnis jasa fotokopi.

Masril yang hanya tamat kelas 4 SD ini ikut membaca materi-materi kuliah. Pria kelahiran 13 Mei 1974 ini juga belajar berorganisasi dari para mahasiswa. Tempat Masril bekerja menjadi tempat berkumpul para perantau asal Sumbar.

Walau tidak tamat SD, Ia dan rekan-rekannya berhasil mendirikan kurang lebih 900 LMK, dengan aset mulai dari Rp 300 juta hingga Rp 4 miliar per LMK. Dia menaksir, total kelolaan dana LKMA secara keseluruhan mencapai Rp 90 miliar. Masril sudah mempekerjakan 1.500 tenaga kerja yang merupakan anak petani yang putus sekolah, tujuannya agar mengurangi angka pengangguran.

Berkat prestasinya tersebut, Masril Koto diganjar penghargaan 'Man of the Years From West Sumatera' pada tahun 2010. Kemudian Ia mendapatkan penghargaan dari ‘Danamon Awards’. Masril yang kini sering tampil sebagai pembicara, sebagai wakil BI atau dosen undangan di berbagai universitas, menargetkan 1.000 LKMA pada 2016. Dia menitikberatkan pendirian LKMA di Indonesia Timur, khususnya daerah yang belum terjamah institusi keuangan.