Berkreasi dengan Hati

Berkat kepedulian Andreas Sukendro Saputro terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) membuat dirinya tergerak memberikan keterampilan kepada ABK agar dapat lebih produktif dan membantu mereka keluar dari zona kemiskinan dan pengangguran terselubung..

Pria kelahiran Medan, 1 September 1967, yang akrab disapa Sukendro ini mendirikan Sekolah Alam Medan yang menyasar ABK dengan usia remaja yaitu 12 – 20 tahun seperti anak-anak autis, down-syndrome, dyslexia, hingga terlambat kognitif. Berbeda dari sekolah umumnya, Sekolah Alam Medan hanya menangani sekitar 70 anak-anak yang “berbeda” dengan berbagai usia. Silabus pun khusus disusun untuk tiap anak mengikuti kemampuan mereka.

Rusaknya lingkungan hidup akibat penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), membuat Sukendro merasa gelisah. Untuk mengatasi hal tersebut Ia melakukan kegiatan pengolahan dan penjualan produk-produk daur ulang dari sampah yang melibatkan ABK sebagai mitra. Secara keseluruhan total investasi yang ia keluarkan untuk kegiatan ini bernilai lebih dari 100 juta rupiah. Dengan berbekal ilmu manajemen bisnis yang ia peroleh dari salah satu perguruan tinggi di Filipina, Sukendro berhasil mengembalikan hasil investasi tadi pada tahun kedua, yang menegaskan bahwa kegiatan usaha yang ia geluti sangat menjanjikan. Hasil dari kegiatan usaha ini ia kembalikan untuk komunitas Sekolah Alam Medan dan para pemangku kepentingan di dalamnya.

Dari segi ekonomi telah terjadi peningkatan pendapatan bagi Sekolah Alam Medan, dan yang terpenting adalah secara psikologis terjadi perubahan sikap masyarakat untuk dapat lebih menerima keberadaan ABK dikarenakan persepsi sebagai beban masyarakat sudah hilang. Dari segi lingkungan, terjadi pengurangan perusakan lingkungan khususnya penumpukan sampah.

Selain dari kegiatan usaha daur ulang sampah, kegiatan sekolah alam ini juga memberikan pendidikan keterampilan lain untuk anak-anak didiknya, antara lain: belajar memasak, seni musik, pelatihan pengetikan, dan pendidikan olahraga. Dalam sehari, Sekolah Alam Medan membagi kegiatannya ke dalam 6 sesi belajar dan 2 sesi olahraga. Di dua bulan pertama, para tenaga pengajar mempelajari minat siswa mereka. Setelah berhasil memetakan minat, barulah mereka menyesuaikan program belajar yang sesuai dengan kegemarannya. Beberapa kegiatan yang paling diminati siswa Sekolah Alam Medan antara lain bermusik, komputasi, dan berkebun.

Dampak dari usaha yang dilakukan oleh Sukendro yang terlihat adalah tumbuhnya keterampilan ABK dalam berkreasi mengolah sampah sehingga dapat menjadi barang yang memiliki nilai lebih. Ia berharap usaha ini dapat dijadikan model percontohan bagi masyarakat khususnya pemberdayaan komunitas ABK dan sejalan dengan pencanangan kota Medan sebagai kota ramah anak.

Sekolah Alam Medan ini, kini dapat mempekerjakan 75 pegawai yang terdiri atas 5 staf administrasi, 20 tenaga pengajar, 10 tenaga penjual dan 40 mitra ABK. Sukendro sangat berharap dengan adanya keterampilan yang dimiliki oleh para ABK, suatu saat nanti pemerintah dan swasta mampu membuka lapangan pekerjaan untuk mereka yang mempunyai keterbatasan dan berkebutuhan khusus. DSEA’14