Djuhhari Witjaksono (Seniman Bahari)

Bangsa Bahari

Nenek moyangku Bangsa Bahari
Jiwamu, semangatmu terus meresap sampai detik ini

Jiwamu semangatmu yang membawa kejayaan kebaharian bangsa abadi
Ini saatnya kubangkitkan kembali

Jiwamu, saat ini, aku bangkitkan kembali
Jiwa semangat nenek moyangku pelaut sejati

Suaranya menggema di bengkel kerja seluas setengah lapangan badminton, di Jalan Brawijaya 294, Mojokerto, Jawa Timur. Bait-demi bait puisi Bangsa Bahari terucap jelas dan lantang dari bibir Djuhhari Witjaksono. Sebuah siang yang bersemangat di akhir Mei.

Abah, panggilan akrab Djuhhari, bukan pujangga, tapi dialah seniman hebat nan langka:miniatur perahu tradisional Nusantara. Lelaki sepuh yang masih gagah ini begitu mencintai kehidupan bahari, seperti nafas kehidupan.

Abah tahu, jika usia adalah keniscayaan. Tapi spirit kehidupan tak bakal padam. Bagi Djuhhari Witjaksono, kecintaanya yang mendalam kepada laut bagaikan magma yang terus menggelegak. Di ambang senja, dia diberkahi sang Pencipta usia 82 tahun, tak pernah membuatnya surut semangat.

Kakek empat cucu ini mempunyai pengetahuan luas dan dalam soal seluk beluk perkapalan. Djuhhari mempunyai kemampuan membuat miniatur ratusan perahu. Tercatat, tak kurang 632 buah kapal tradisional Nusantara pernah dia buat di workshopnya itu. Pengetahuan ini meliputi bentuk, ukuran, serta makna filosofi dari masing-masing kapal.

Sejak 1980-an, Abah mendalami dunia pembuatan miniatur kapal. Karya Abah yang lahir di Malang pada 15 Desember 1930 sangat istimewa, meskipun pengetahuan tersebut didapat secara otodidak.

Demi mendalami kecintaanya pada seni perahu tradisional Nusantara, ia rela mempelajari ratusan sumber literatur dunai maritim di dalam maupun luar negeri. Riset bentuk awal perahu dia lakukan pada medio 1986 untuk menemukan bentuk asli perahu Majapahit.

Kakek empat cucu ini, rela menyambangi candi-candi di Penataran, Blitar dan Borobudur, Magelang, untuk mempelajari model dan bentuk perahu di masanya. Pada akhirnya, dengan keterampilan dan ketertarikan kepada dunia maritim, tidak sengaja menciptakan karya berupa miniatur perahu Majapahit pada 1991. Tak diduga, miniatur itulah yang bakal mengubah hidupnya hingga sekarang ini.

Peraih Seal of Excellence for Handicrafts dari UNESCO pada 2006, ini, merasa terpanggil untuk menularkan kecintaan bahari kepada generasi muda. "Pemuda tengoklah lautan kita. Kekayaan laut kita sangat luar biasa. Bangkit, cintai laut. Jangan pernah dibodohi soal laut. Gunakan kecerdasan dan keberanian untuk mencintai laut," serunya dengan berapi-api, di rumahnya, Jalan Brawijaya 302, Mojokerto, Jawa Timur.

Hasil karyanya memikat banyak orang dan laku terjual. Harganya antara ratusan ribu rupiah hingga Rp 200 juta. Omzetnya kini mencapai Rp 30 juta per bulan. Walau begitu, Djuhari tergolong murah ilmu. Ia terjun mengajari masyarakat sekitar untuk membuat miniatur kapal tradisional. Dengan bahan baku dari Kayu Sonokeling atau kayu jati, Abah mengajari para pekerja ketrampilan membuat miniatur perahu.

Seperti pengakuan Budi Pandowo. Lebih dari 11 tahun dia bekerja bersama Abah membuat perahu mini. "Saya dulu pertama diajari menempel gambar, lalu membuat sketsa, hingga dipercaya membuat kapal hingga saat ini," katanya.

Di sejumlah lokasi tak jauh dari rumah dan workshopnya, terdapat beberapa perajin yang dulunya merupakan pegawai Abah. Di Dusun Bangsal misalnya, terdapat home industri yang juga membuat miniature perahu.

Di rumah milik Muhamad Ikhwan, Dusun bangsal, RT 12 RW 02, Kecamatan Bangsal, Mojokerto, Jawa Timur, terlihat delapan orang remaja sedang merangkai miniature kapal. "Kami khusus melayani pesanan perahu ukuran kecil," jelas Bambang, sapaan akrab Muhamad Ikhwan.

Muhamad Ikhwan bekerja sebagai pegawai Abah sejak 2005. Setelah empat tahun, dan merasa mampu mandiri, dia pun membuat usaha serupa. Hasilnya, selain mampu menghidupi keluarga, juga membantu anak-anak kurang mampu yang berada di sekitarnya. "Kegiatan ini menjadi bagian dari program Padepokan Pondok Sifat Tawon yang merupakan pondok swadaya masyarakat," jelas Muhamad Ikhwan.

Fandi Ardiansyah, siswa Sekolah Menengah Kejuruan, jurusan Kimia Industri, di Mojoanyar, Mojokerto, mengaku kegiatan membuat perahu kecil itu untuk mencari pengalaman. "Sekaligus membantu orang tua," kata pelajar kelas dua itu. Butuh waktu tiga bulan lebih bagi Fandi dan kawan-kawannya untuk belajar membuat miniatur perahu.

Sementara di Desa Blooto, RT 01 RW 01, Kecamatan Prajurit Kulon, Mojokerto, terdapat Suharto (40), seniman nyentrik penerus Djuhhari. Di rumahnya, yang dibangun berkat ketrampilannya membuat miniature perahu dalam botol, setiap hari riuh oleh para pekerja muda warga sekitar.

Selama lima tahun bekerja bersama Djuhhari membuat kemampuannya mendesain miniature perahu berkembang. Sejak 15 tahun lalu dirinya berkutat dalam produk serupa. Namun, Djuhhari-lah yang memberinya wawasan baru. "Berbekal pengetahun dan pengalaman itulah saya mengembangkan produksi miniatur perahu botol," kata Suharto.

Kini bapak satu anak itu mampu membangun rumah, menyekolahkan anak, dan memberikan pekerjaan kepada warga sekitar. "Abah mau menularkan ketrampilan agar bisa mandiri," tutur Suharto.

Karena ketekunan dan kepedulian itulah Abah meraih berbagai penghargaan, di antaranya Piagam Penghargaan Upakarti dari Menteri Perindustrian pada tahun 1991.

Beragam miniatur kapal berderet di rumah sekaligus showroom pusat Sanggar Seni Bahari Tradisional (SSBT) yang berada di Jalan Brawijaya 302. Sehari-hari, Djuhhari masih terus berkarya dengan semangat bisa yang terus menyala. Bengkel kerja yang berada di Jalan Brawijaya 294, tak jauh dari rumahnya menjadi saksi bagaimana usia tak mampu menghadang langkah lelaki sang pecinta bahari.

Dik Doank, Artis, Pemerhati Budaya Banten

"Djuhhari itu pelestari atas apa yang pernah diciptakan Yang Maha Kuasa. Beliau merupakan pakar dibidangnya, yang semua itu dipelajari secara otodidak. Ilmu yang dia peroleh, dengan rendah hati diajarkan kepada orang di sekelilingnya agar turut mencintai dunia bahari. Orang besar bukan dari ketokohan dan keahliannya, tapi dari kepeduliannya."