Keterpurukan Bukan Keputusasaan

Usahanya yang bangkrut bukan menjadikannya orang yang mudah menyerah, keterpurukan membantunya bangkit dan menemukan solusi untuk membantu masyarakat di desa Pogog.

Keterpurukan ternyata membawa kesenangan tersendiri bagi Jiwo Pogog, laki-laki kelahiran tahun 1966 yang memiliki nama asli Jumali W. Perwito. Hal tersebut didapatkannya saat dirinya mendatangi kembali desa Pogog tempat dulu dirinya pernah Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk sekedar mencari suasana baru dikala bisnisnya terpuruk. Pada tahun 2007 dampak krisis yang ia alami ternyata juga dialami oleh masyarakat Desa Pogog, alhasil banyak warga yang meminta bantuan memberikan lapangan pekerjaan kepadanya. Jiwo Pogog yang akrab dipanggil Mas Jiwo berusaha mencari solusi yang pada akhirnya menemukan sebuah ide usaha yaitu Pepayanisasi yang modal awalnya diambil dari dana pribadinya.

Kegiatan pepayanisasi selain menjadikan lahan di desa Pogog sebagai "gudangnya" pepaya walaupun cukup sulit untuk mengubah pola berpikir warga yang selama ini berpikir bahwa pepaya adalah komoditi kurang menguntungkan dibanding singkong yang selama ini mereka tanam. Mas Jiwo juga tidak segan-segan untuk menyekolahkan warga desa ke sentra budidaya pepaya hingga mendatangkan pakar pepaya. Selain itu, untuk mencegah munculnya tengkulak Mas Jiwo membuat suatu badan yang mengatur penjualan pepaya hanya melalui satu pintu. Tak hanya pepayanisasi, Mas Jiwo juga membuatkan perpustakaan dan saluran air bagi warga Pogog.

Setiap kegiatan pastinya akan mempunyai dampak, seperti pepayanisasi yang telah berhasil memberikan penghidupan baru bagi warga desa Pogog. Selain penghasilan pepayanisasi juga menghadirkan diversifikasi pofesi yaitu sebagai pengepul pepaya, hilangnya anggapan desa tertinggal bagi desa Pogog hingga membuat masyarakatnya merasa bangga dan yang terakhir adalah dari 51 petani 10 diantaranya telah berhasil berkat penyuluhan yang diberikan oleh Mas Jiwo dari kegiatan pepayanisasi tersebut.

Kegiatan pepayanisasi yang dirintis oleh Mas Jiwo hingga saat ini telah berhasil memetik hasil dengan 4 kali panen dan penghasilan yang didapatkan mencapai Rp 6.000.000,- walaupun 20 dari 325 pohon gagal panen. Kedepannya ia berencana untuk mengembangkan usaha dengan melebarkan sayap ke buah dan hal lain seperti durian dan menjadikan Desa Pogog sebagai desa wisata durian montong yang pada 2014 diharapkan akan mulai panen. (DESA13)