Semangat Berbagi Mas Jo

Hasil silangan itu ternyata menghasilkan panen melimpah, dua kali lipat dibanding benih hibrida yang selama ini harus dibeli petani.

Cerita sedih tentang kehidupan petani di Indonesia masih terus bersambung. Ironisnya, pemerintah seperti membiarkan cerita itu menjadi serial yang entah kapan usainya. Mereka memang harus berjuang sendiri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Jangan menunggu uluran tangan pemerintah.

Itulah semangat yang terus dikobarkan di benak petani Joharipin (37). Dengan semangat yang pantang menyerah, ia mulai mengumpulkan fakta apa saja yang membuat hidup petani terus saja miskin. Joharipin yang akrab disapa Mas Jo ini memikirkan harga benih yang mahal, juga pupuk yang seringkali langka dan sudah pasti mahal pula. Belum lagi kesulitan modal yang seringkali memaksa dia dan petani lainnya harus rela berutang pada tengkulak.

Kurangnya akses permodalan dari lembaga keuangan untuk para petani, mau tidak mau membuat mereka menjual hasil panen dengan sistem ‘ijon'. Artinya, tanaman yang masih hijau dijual kepada tengkulak dengan harga murah. Petani sangat membutuhkan modal itu untuk membayar tenaga kerja. "Rata-rata tenaga buruh tani di sini setengah hari Rp25.000," ujar Kunaenah (40), warga setempat.

Dari berbagai fakta itulah Joharipin bertekad untuk melakukan efisiensi dalam usaha pertanian. Dia ingin membuat benih sendiri, supaya tidak dipermainkan harga benih yang mahal di pasar. Mas Jo cukup tekun dan rajin bertanya ke orang-orang tua mencari benih-benih lokal. Benih-benih yang didapat itu kemudian disilangkan, sehingga menghasilkan benih unggul. Salah satu yang berhasil dia muliakan adalah benih kebo dan benih longong. Karena dua benih itu dia kawinkan, maka dinamai benih bongong, kependekan dari kata kebo dan longong. "Sekarang saya sudah punya benih bongong ini enam varian," katanya bangga.

Benih-benih itu tidak dia jual, tapi dia bagikan kepada anggota kelompoknya yang mau menanam. Awalnya, Mas Jo hanya berbagi kepada 30 orang yang mau mengikutinya menanam padi dari benih lokal. Tapi sekarang, sudah ribuan petani yang minta benih dari dia. "Bukan cuma dari desa sini aja, tapi juga dari desa-desa tetangga," ujarnya.

Nama Joharipin pun terkenal. Sebab, benih padi bongong hasil silangannya ternyata menghasilkan panen melimpah, dua kali lipat dibanding benih hibrida yang selama ini harus dibeli petani. "Kalau padi hibrida yang selama ini kita tanam, paling menghasilkan panen 5 ton per hektare. Tapi kalau kita tanam bongong, hasilnya bisa 10 ton per hektare," ucapnya.

Petani lain pun senang, karena pendapatan mereka meningkat. Maka, datanglah petani dari Aceh, Kalimantan Barat, Kudus dan Lumajang. Mereka dibawa ke tempat Joharipin oleh Yayasan Bina Desa. "Mereka saya bagi benih bongong, tapi saya juga minta benih lokal dari daerah mereka. Di sini kita kembangkan lagi, mudah-mudahan tanahnya cocok," kata Mas Jo.

Semangat Mas Jo benar-benar hanya ingin berbagi. Seringkali ia harus merogoh kocek sendiri untuk menjamu tamu-tamunya yang datang berlatih. "Nggak apa nombok-nombok. Itung-itung kita sedekahlah. Alhamdulilah dengan kita ikhlas, rezeki sih ada di mana-mana," tuturnya.

Kata Piyu tentang Mas Jo

Semangat berbagi itulah yang membuat Piyu, gitaris Grup Band PADI berdecak kagum. Bagi Piyu, sosok Mas Jo merupakan anugerah dari Tuhan untuk menolong sesama petani. "Dia bukan hanya terinspirasi saja untuk membuat benih, tapi dia melakukan sendiri. Selama lima tahun dia melakukan itu tanpa dukungan atau bantuan orang lain. Semangatnya luar biasa. Mungkin itu yang patut dicontoh," katanya.

Setelah seharian ikut menanam padi bersama Joharipin, Piyu juga jadi bersemangat mengungkapkan pendapatnya. "Mungkin Mas Jo ini belum bisa mengubah dunia, belum bisa mengubah sistem pertanian di Indonesia, belum bisa melakukan suatu revolusi, tapi sedikitnya dia sudah bisa memberdayakan masyarakat sekitarnya. Buat saya itu sebuah pekerjaan yang mulia," ujarnya.

Apa yang dilakukan Mas Jo menurut Piyu itu murni untuk masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi. "Bahkan saya tanya tadi soal benih yang berhasil dia silangkan itu apakah mau dipatenkan, dia bilang nggak mau. Nanti kalau dipatenkan kan jadi industri. Padahal maunya itu untuk masyarakat. Dia sama sekali tidak berpikir bisnis. Yang dia utamakan masyarakat sejahtera dulu," kata Piyu.

Satu lagi yang membuat Piyu tertarik pada sosok Joharipin. Yaitu Mas Jo ini punya pemikiran yang maju tapi secara otodidak. "Dia belajar dari membaca, atau diskusi dari teman yang datang ke sini, tukar pikiran, juga dari orang-orang tua," ucap Piyu. Ia menambahkan, petani itu sebetulnya pengusaha. Karena dia membuat produknya sendiri, menjual sendiri dan me-manage. Petani itu mempunyai visi, bukan sekadar orang yang bekerja menanam padi.