Mengumandangkan Asa Kaum Tuna Rungu

Tongkat estafet kreatifitas dari Ibunda membuat dirinya untuk lebih peduli dengan orang lain yang tuna rungu, Sunarni pun melebarkan sayap usahanya menjadi bisnis penuh berkah.

Berawal dari kondisi adiknya yang tuna rungu, membuat Sunarni dan ibunya berpikir untuk menciptakan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh adiknya. Berbekal kreatifitas yang dimilikinya dan sampah plastik yang ada di sekitar tempatnya tinggal, Sunarni melihat peluang dalam mengelola sampah menjadi sebuah barang yang bernilai jual. Ia dan Ibunya membangun usaha kecil-kecilan yaitu tas dan souvenir yang dibuat dari bungkus kopi, deterjen dan lain-lain. Usaha yang awalnya bermodal seadanya lama-kelamaan membesar seiring menyebarnya informasi di masyarakat tentang tas dan souvenir yang terbuat dari sampah.

Berbekal usaha yang telah berjalan baik tersebut, Sunarni berinisiatif untuk mendirikan Group of The Deaf yaitu mendidik anak tuna rungu untuk membuat tas dan souvenir agar kelak anak-anak tersebut tidak merasa minder atau malu dalam pergaulan. Usaha tersebut telah berjalan sejak tahun 1995 dengan nama "The Happy Trash Bag."

Selain bertujuan untuk membantu anak tuna rungu kegiatan yang dilakukan Sunarni juga dapat mengurangi sampah rumah tangga dan juga memberdayakan para wanita agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan.

Usaha yang awalnya berasal dari rumah petakan, kini Sunarni sudah memilki workshop yang bertempat di Pisangan Barat, Ciputat – Tanggerang. Komitmenya dalam menjaga kualitas produk yang dihasilkan dan kemampuannya dalam mendengarkan keinginan konsumen, membuat Produk-produk yang dihasilkannya diekspor ke Dubai, Australia, Inggris dan yang rutin adalah Singapura dan Bali. Selain itu Sunarni rutin untuk mengikuti acara pameran-pameran, memasukan hasil karyanya ke mini market hingga menjadi rekanan hotel berbintang. Produknya juga dapat ditemukan di Ranch Market - Kelapa Gading dan Kemchicks - Kemang.

Agar pengumpulan bahan baku berjalan lancar Sunarni bekerjasama dengan Departemen Pemberdayaan Perempuan, caranya adalah setiap pegawai diminta untuk membawa sampah bungkus ke kantor setiap 2 minggu sekali untuk selanjutnya dikumpulkan. Bahkan ia tak segan-segan untuk mengumpulkan sampah plastik yang ia temukan sepanjang perjalanannya.

Selain berbagi ilmu dengan masyarakat sekitarnya wanita 35 tahun ini pernah memberikan pelatihan di SLB di seputaran Lebak Bulus, Cipete dan Pondok Cabe. Workshop tempatnya juga rutin menerima anak-anak dari SLB untuk melakukan PKL. Bahkan dirinya menjadi tenaga paruh waktu di salah satu yayasan untuk mengajarkan ibu-ibu yang kurang mampu di Kalimantan, Irian, Jogja dan Surabaya mengolah limbah daur ulang sampah.

Usaha yang dimulai sejak tahun 1995 ini telah memberdayakan 7 anak tuna rungu dan berhasil mendapatkan omset perbulan sebanyak 5-10 juta rupiah dengan rata-rata karyawan mendapat 1,5 juta belum termasuk transport, bonus dan uang makan. (DSEA13)