Merenda Cita untuk Kaum Papa

Keprihatinannya terhadap kemiskinan yang melanda daerahnya membuat laki-laki berusia 34 tahun ini tergerak untuk mengulurkan tangan membantu masyarakat.

Banyaknya masyarakat di daerahnya yang mempunyai keterbatasan fisik dan hanya memiliki pekerjaan sebagai pengupas kelapa dengan upah Rp 100 per buah membuat Umar Husein berani menggunakan uang hasil keringatnya sebanyak Rp 3.000.000 sebagai tukang kayu di Surabaya dahulu sebagai modal awal untuk membeli mesin jahit, mesin obras dan peralatan lainnya. Tujuannya hanya satu yaitu menjadikan masyarakat desanya mandiri dengan mengajarkan cara menjahit kepada orang lain terutama para tuna daksa.

Keterbatasan fisik yang ia miliki ternyata tidak membendung niatnya untuk tetap berbagi dengan sesama. Keikhlasannya sebagai orang yang peduli tercermin dari kemauannya yang secara rutin memberikan pelatihan selepas sholat magrib walaupun lokasinya berjarak 10 Km dari rumahnya. Selain itu, ia pun selalu memberikan motivasi kepada murid dan masyarakat sekitar untuk tidak mudah menyerah dan berjiwa mandiri. Harga jasa jahit yang ia berikan juga dibuat semurah mungkin bahkan masyarakat dapat membayarnya dengan cara mencicil. Umar Husein juga memberikan jasa perbaikan mesin jika ada peralatan jahit muridnya yang rusak.

Bentuk keikhlasan yang ia berikan ternyata berpengaruh terhadap muridnya yang empat orang diantaranya adalah tuna daksa, Umar Husein telah menjadi panutan bagi para anak didiknya sehingga mereka ingin untuk menjadi penjahit yang mandiri hingga empat dari delapan orang anak didiknya telah mandiri dan membuka usaha sendiri. Bahkan satu diantara mereka telah lebih sukses dari Umar Husein dan juga memberikan pembelajaran kepada warga lainnya.

Nilai riil yang awalnya hanya mendapat Rp 100.000,- setiap bulan telah meningkat setiap tahun hingga saat ini ia mampu menghasilkan Rp 1.5 – 2 Juta per bulan jika pesanan sedang banyak. Pendapatan tersebut bisa dibilang besar mengingat wilayah tempat tinggal Umar husein yang berada di daerah terpencil, Desa Parabok Kecamatan Teluk Sampit – Kalimantan Tengah. Penghasilan bulanan yang ia dapatkan diputar lagi untuk modal dan saat ini telah ada sekolah yang rutin memesan seragam sekolah.

Cita-cita Umar Husein tidaklah muluk-muluk, ia hanya ingin memiliki tempat yang lebih luas dan besar agar lebih banyak masyarakat yang merasakan pelatihan yang ia lakukan sekaligus ia juga ingin membantu lebih banyak tuna daksa untuk bisa hidup mandiri.