Mengembangkan Agro Techno Park Salak sebagai media pemberdayaan masyarakat petani salak desa Sibetan

Putu Gede Asnawa Dikta, Pemuda berusia 21 tahun ini melihat potensi yang besar menjadikan desa Sibetan sebagai desa Wisata Argo Park Salak, disamping itu keprihatinan Dikta dengan kondisi perekonomian petani yang masih tergolong miskin karena saat musim panen raya harga Salak anjlok dan petani dirugikan. Terkenal dengan sentra produksi pertanian salak tidak serta merta mampu mengantarkan masyarakat petani salak di desa Sibetan dapat hidup dengan kualitas yang memadai, merujuk pada tingginya angka kemiskinan di kalangan petani salak, mencapai 24% dari total jumlah penduduk (7.425 jiwa). Data ini dapat dijadikan refleksi bahwa aktivitas ekonomi mayarakat berbasis pada pertanian salak belum memberikan trickle down effect pada hidup dan kehidupan petani salak .

 

Saat musim panen raya, rentangan Agustus-September dan Januari- Pebruari omzet produksi mencapai 100 ton/tahun, harga salak merosot tajam mencapai Rp. 300,- s.d. Rp. 800,- perkilogram. Namun saat kondisi normal, terutama bertepatan dengan hari raya keagamaan harga salak hanya Rp. 5.500,- /kg. Fluktuasi harga jual komoditas salak yang sangat ektrim, lambat laun akan dapat menciptakan kemiskinan yang semakin kronis di kalangan masyarakat petani salak, bila tidak ada upaya kreatif dan inovatif dalam mendiversifikasi pengelolaan pertanian salak dari hulu sampai hilir 
Di sisi yang lain, ketidakmampuan dalam pengolahan limbah tani salak akan dapat mengancam sanitasi lingkungan. Salak busuk yang dibuang serampangan akan menebar bau busuk, mengotori lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan.

 

 

Kelompok warga abian wisata yang diketuai oleh Dikta mengembangkan Desa Sibetan sebagai area tujuan wisata baru dengan membangun area kebun salak yang luas sekitar kurang lebih 1 ha sebagai projek contoh dari total luas 40 ha ladang salak di kabupaten Karangasem Bali Desa wisata Sibetan yang menawarkan Destinasi wisata Agro wisata salak dengan melibatkan Masyarakat sekitar sebagi pengelola dan kelompok warga Abian wisata salak yang disuguhkan di desa wisata Salak Sibetan, dari limbah salak tersebut dapat menghasilkan produk yang lain seperti biji salak menjadi kopi biji salak, Pia salak, cuka salak, kurma salak dan teh daun salak 
Sasaran masyarakat dalam program pengabdian ini adalah kelompok masyarakat (petani miskin-salak) di Desa Sibetan. Keberadaan kelompok ini diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu: kelompok produksi, kelompok marketing, dan kelompok promosi. 

 

Keberadaan Desa wisata salak Sibetan dari tahun 2012 sedikitnya telah merubah taraf perekonomian Masyarakat desa dengan melibatkan sepenuhnya masyarakat dalam mengolah aneka Produk kreatif salak, buah dan limbah salak kini menjadi pemasukan masyarakat. 80 %

Warga desa Sibetan terlibat di pengelolaan baik sebagai Guide, Pengolah produk salak dan wisata tani. di perkirakan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar 5 sampai 7 %. Desa wisata Salak Sibetan saat ini dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal dengan tingkat kunjungan 7 sampai 15 kelompok setiap minggu,jumlah setiap kelompoknya berfariasi antara 7 sampai 35 orang.

Kegiatan pemberdayaan ini mampu membangun kompetensi profesional pada kelompok masyarakat sasaran yang ditunjukkan melalui pendidikan tourism, guide training, serta pembinaan attitude dalam dunia wisata.

Kegiatan pemberdayaan mampu mengembangkan keterampilan promosi dan pemasaran kelompok masyarakat sasaran yang ditunjukkan dengan adanya diversifikasi pengolahan buah dan limbah salak. Peran promosi dan pemasaran juga ditingkatkan melalui stan pada poin area agrowisata serta penggunaan website sebagai media pembantu.

Harapan kedepannya dari program ini yaitu adanya penghasilan masyarakat minimal setara dengan UMR Kab. Karangasem (Rp. 800.000,-/bulan) yang sebelumnya hanya rata-rata Rp. 500.000,-/bulan (penghasilan kotor). Terwujudnya demplot kawasan agro-wisata salak dengan luas 1 km2 yang meliputi bangunan/sentral/poin (kuantitas: satu): ticketing, pusat informasi, kebun eksotis, stan kuliner inovatif, foto session, gubuk relax, stan produk kreanova, dan sentral petik salak sebagai cikal bakal lingkungan industri kreatif. Terwujudnya 2 unit demplot sistem tani terpadu sebagai upaya optimalisasi bibit salak unggul dan sistem pengolaham limbah salak berbasis zero waste. 
Adanya kesadaran masyarakat dalam upaya melaksanakan program pilotting project agro-wisata menuju “Sibetan Agro Techno Park” yang ideal dan terlembaga di Desa Sibetan.